Tuesday, 2 October 2018

BAYANGMU

Karya Semsal

Saat kugoreskan pena diatas secarik kertas
Aku terbayang Indah Wajahmu
Sambil kuputar lagu romansa
Seolah tercipta suasana romantis

Kamarku yang sempit
Seolah restoran berkelas
Cahaya lampu yang terang
Seakan redup hanya ada satu lilin

Kubayangkan Wajah Indahmu
Seakan kita sedang duduk berhadapan dalam satu meja makan
Kutatap Indah Wajahmu
Kamu menatap kebawah karena tersipu malu

Aku mencoba mengajak kamu memulai obrolan
Kamupun begitu ingin megajakku memulai obrolan
Kita malah tertawa saat muncul pertanyaan sama keluar secara bersama
Beginilah caraku saat hanya ada bayangmu

Friday, 13 April 2018



HAMPA
Karya Liya Nika Septiyani

Entah rasa apa yang muncul dalam kalbu
Sunyi, Sepi, Risau, Gelisah, Resah
Mereka datang bergantian
Mereka menyiksa kalbu

Rasa yang sangat amat pilu
Gelisah merenggut jiwa
Hati begitu sendu
Dikala malam itu

Entah sampai kapan rasa itu hilang dalam hati
Hati yang sangat sepi, Hati yang sangat sunyi
Bagai rumah tanpa penghuni
Mereka selalu memburu dikala hampa


MALAIKAT TANPA SANYAP
Karya Liya Nika Septiyani 

Kau mentariku
Kau penyemangatku
Kau hidupku
Kau nyawaku

            Kau ada dikala aku butuh
            Kau ada dikala aku sedih
            Kau ada dikala aku senang
            Kau ada dikala aku malang

Kau lah mentariku
Entah kau sedih entah kau  senang
Kau tetap terlihat bahagia didepanku
Tetaplah senang

            Maaf…. maafkan daku yang belum bisa menjadi kebanggaanmu
            Maafkan daku yang menyusahkanmu
            Aku masih butuh bimbinganmu
            Aku masih butuh kau….


WAKTU
Karya Liya Nika Septiyani 

Waktu tidaklah mahal
Hanya kita yang memahalkan
Waktu tak bisa di putar
Hanya roda yang bisa di putar  
         
            Indahnya sebuah waktu luang
            Dimana kita bisa bersenang-senang
            Menghabiskan waktu berdua
            Saling canda tawa

Tetapi itu semua amatlah mahal
Kenapa seperti itu?
Apa waktu dijual?
Agar kau menyempatkan untuk membeli?
Agar kau punya waktu?

            Waktu tidak bisa diputar ulang
            Hanya roda sepeda yang bisa diputar ulang
            Apa kau tidak mau bersenang-senang?

           
KITA BERDUA
Karya Semsal

Khawatir dalam jiwa
Menuggu datangnya engkau
Bergumam dalam hati tak kalau kau belum datang jua
Malam ini ditiup angin menyapa rasa gundahku

Kau datang dengan senyum malu-malu
Terlihat pipimu memerah
Lesung pipimu membuat aku tak berdaya
Seolah malam ini merestui pertemuan ini
Kini aku dan kau menjadi kita

Hanya ada serangga mengiringi malam ini
Diatas meja telah tersedia 2 nasi goreng
Malam ini kita mencoba membunuh sepi
Aku tak ingin cepat berakhir


Ctrl+C
Karya Semsal

Aku tanam biji sajak
Kurawat dengan akal
Kini telah dewasa tak begitu indah
Tak satupun peduli, mendekatpun tak mau

Namun aku tak putus asa
Jemari ini tetap menulis dengan lembut
Kurawat sajak demi sajak hingga mekar
Ku harap menjadi bunga puisi indah

Bungaku mulai bermekaran seperti yang kuinginkan
Namun aku tak mengerti dengan mereka
Tiba-tiba mendekat bunga-bungaku
Memetik bunga sajakku

Dipetik bagiku tak masalah
Dibawa sekalian aku tak membencinya
Kau pakai untuk merayupun tak jadi masalah
Namun aku benci saat kau mengaku itu milikmu

PERGILAH
Karya Semsal
Terimakasih untuk malam ini
Malam pekat ini kau temani diriku
Ribuan bintang diatas sana tertawa
Bulan seolah menari-nari melihat kita

Bersamamu kau bawa aku terbang
Memecah cakrawala menuju alammu
Melupakan keluh kesah hari ini
Kau selalu setia denganku di kala sepi

Dinginnya angin malam menyentuh tubuh
Kau coba mendekat memeluk menghangatkan tubuhku
Namun tubuhku mulai melemah kali ini
Kau terlalu erat memeluk tubuhku

Sudah waktunya kau pergi dariku
Ceritakan temanmu-temanmu tentang kejadian malam ini
Aku tak sanggup lagi bersamamu
Cukup sampai disini kau bawa aku kealam gelapmu

Thursday, 29 March 2018


kopi pahit
Termenung, terlihat suasana siang ini
Aku melihat dengan jelas
Iya sorot matamu itu
Kamu tahu apa yang aku rasakan
Mungkin hanya omong kosong hati
Tidak, secangkir kopi itu tak pernah bohong
Berkatalah ucapanmu bohong
Bola matamu tak mampu menutupi perkataanmu
Ingatkah kau tentang kita tentang masa depan kita
Aku tahu kopi itu pahit
Tapi mengapa kau selalu bilang manis?
Kamu salah, kamu benar-benar salah hari ini
Siang ini dibawah sinar matahari
Kutulis bekas kemarahan hati
Agar kau tahu secarik kertas itu adalah isi hatiku
Dimana isinya terdapat goresan tinta bercorak merah darah
by: semsal

hujan pengingat hutang
lebur didalam khayalan
menanti redanya hujan penyebab kegelisahan dalam jiwa
aku pernah berhutang pada ucapanku, tapi aku lupa dengan hutangku
kataku pernah tersemat dalam ucapanku menuju telingamu
suatu kata yang selalu tergores hingga tak terhapus
itu membuat hidupmu tak teratur
kini aku hanya bisa mendengar celotehmu
namun aku tak pernah mengerti
menggonggong, mungkin itu yang ku dengar darimu
saat ini aku terbiasa sampai aku tak sadar diri
aku masih punya hutang kata
wahai hujan bawalah aku kepada keindahan pelangi damaimu
jangan beri warna-warni kehidupan fana
by: semsal


Rumahku sempit
Sesekali aku menatap indahnya alamku
Kulihat banyak rumah di sawah
Gedung putih tegak menantang cakrawala
Terhempas, tertabrak angin setiap hari
Jalanku yang dulu tak beraturan kini banyak lalu lalang kendaraan pribadi
Rumahku terhimpit
Rumahku yang sempit mengapa kau selalu beranak pinak
Mengapa kau tak ingat beras
Ladang sawah yang dulu selalu kau rebut kini telah hilang demi kau berteduh
Mungkinkah akan hilang? Mungkinkah akan semakin padat?
Ibu, mengapa kau hanya diam?
Ibu, tolonglah Putramu
Tanahmu sedang di rajah para rakyat berduit
Ibu, tanah pertiwimu sedang dilanda demokrasi kebablasan
by: semsal

Terpaku Angka
Belajar aku untuk masa depan
Berpacu menahan emosi
Ribuan tugas dosen selesai
Hanya mengejar sebuah angka
Lahirnya angka didunia semakin pesat
Memperoleh angka menjujung nama baik
Angka membabi buta pelaku terpelajar
Hukum angka membuat mati pelakunya
Angka hanyalah momok dari suksesnya manusia
Manusia dianggap tolol jika memiliki angka kecil
Angka adalah ajang penilaian perusahaan
Dengan angka kecil mau dibawa kemana?
Milirikpun ogah,
Menyusuri kota menghadapi era globalisasi
Tanpa angka kita hanya jadi pesuruh
Jadi buruh yang tak berarti
Langkahku terhenti oleh angka
Tempat mengadu fikiran memiliki angka kecil
Aku hanya bisa berucap
Maaf ibu aku terpaku angka
by : semsal

Rindu
Rindu yang tak semestinya membuat hati ini hancur
Keraguan yang selalu mengelilingi jiwa
Menggoreskan tinta kehancuran hidup
Entah apa yang terdapat dalam benak
Mungkin itu kamu?
Mungkin hanya perasaan bodohku?
Mungkin! Ya cukup hanya mungkin
Wahai engkau wanita pujaan
Coba mengerti keadaanku kali ini
Aku di himpit oleh anganmu
Aku ingin merdeka karenamu
by: semsal

Mimpi Yang Terbeli
Pernah aku bermimpi ingin ini ingin itu. 
Ingin segala hal didunia bisa aku dapatkan.
Dengan berjalannya waktu aku telah menemukan sebuah kebahagiaan dengan kawanku. 
Mengejar mimpi bersama dengan petantang penteteng menyusuri jalan tanpa rasa takut didepan dihadang banyak rintangan. 
Disatu sudut aku menemukan keganjalan pada kawanku,
kawanku semakin lama semakin berjaya dengan mengedepankan sebuah materi. 
Sebaliknya diriku hanya bisa menguras kringat, 
memutar otak untuk mendapat mimpi tanpa materi. 
Kawanku semakin bahagia dengan kehidupan barunya karena mempunyai banyak materi. 
Apapun yang kawanku katakan dapat terkabul dan yang paling aku benci kebenaran hanya berpihak kepada orang yang mempunyai materi. 
Aku tak punya secuil materi, apa yang aku katakan hanya dianggap omong kosong. 
Dari situ aku baru sadar, bahwa ditempat aku berdiri dibumi pertiwi masih ada orang - orang memperjual belikan mimpi. 
Setinggi apapun mimpi yang diinginkan jika masih punya materi ia akan mendapatkannya. 
Selain sebuah mimpi, masih banyak pula orang yang menjual kebahagiaan. 
Kebahagianku dengan kawanku dulu telah hilang karena sebuah materi.
by: semsal