Friday, 13 April 2018



HAMPA
Karya Liya Nika Septiyani

Entah rasa apa yang muncul dalam kalbu
Sunyi, Sepi, Risau, Gelisah, Resah
Mereka datang bergantian
Mereka menyiksa kalbu

Rasa yang sangat amat pilu
Gelisah merenggut jiwa
Hati begitu sendu
Dikala malam itu

Entah sampai kapan rasa itu hilang dalam hati
Hati yang sangat sepi, Hati yang sangat sunyi
Bagai rumah tanpa penghuni
Mereka selalu memburu dikala hampa


MALAIKAT TANPA SANYAP
Karya Liya Nika Septiyani 

Kau mentariku
Kau penyemangatku
Kau hidupku
Kau nyawaku

            Kau ada dikala aku butuh
            Kau ada dikala aku sedih
            Kau ada dikala aku senang
            Kau ada dikala aku malang

Kau lah mentariku
Entah kau sedih entah kau  senang
Kau tetap terlihat bahagia didepanku
Tetaplah senang

            Maaf…. maafkan daku yang belum bisa menjadi kebanggaanmu
            Maafkan daku yang menyusahkanmu
            Aku masih butuh bimbinganmu
            Aku masih butuh kau….


WAKTU
Karya Liya Nika Septiyani 

Waktu tidaklah mahal
Hanya kita yang memahalkan
Waktu tak bisa di putar
Hanya roda yang bisa di putar  
         
            Indahnya sebuah waktu luang
            Dimana kita bisa bersenang-senang
            Menghabiskan waktu berdua
            Saling canda tawa

Tetapi itu semua amatlah mahal
Kenapa seperti itu?
Apa waktu dijual?
Agar kau menyempatkan untuk membeli?
Agar kau punya waktu?

            Waktu tidak bisa diputar ulang
            Hanya roda sepeda yang bisa diputar ulang
            Apa kau tidak mau bersenang-senang?

           
KITA BERDUA
Karya Semsal

Khawatir dalam jiwa
Menuggu datangnya engkau
Bergumam dalam hati tak kalau kau belum datang jua
Malam ini ditiup angin menyapa rasa gundahku

Kau datang dengan senyum malu-malu
Terlihat pipimu memerah
Lesung pipimu membuat aku tak berdaya
Seolah malam ini merestui pertemuan ini
Kini aku dan kau menjadi kita

Hanya ada serangga mengiringi malam ini
Diatas meja telah tersedia 2 nasi goreng
Malam ini kita mencoba membunuh sepi
Aku tak ingin cepat berakhir


Ctrl+C
Karya Semsal

Aku tanam biji sajak
Kurawat dengan akal
Kini telah dewasa tak begitu indah
Tak satupun peduli, mendekatpun tak mau

Namun aku tak putus asa
Jemari ini tetap menulis dengan lembut
Kurawat sajak demi sajak hingga mekar
Ku harap menjadi bunga puisi indah

Bungaku mulai bermekaran seperti yang kuinginkan
Namun aku tak mengerti dengan mereka
Tiba-tiba mendekat bunga-bungaku
Memetik bunga sajakku

Dipetik bagiku tak masalah
Dibawa sekalian aku tak membencinya
Kau pakai untuk merayupun tak jadi masalah
Namun aku benci saat kau mengaku itu milikmu

PERGILAH
Karya Semsal
Terimakasih untuk malam ini
Malam pekat ini kau temani diriku
Ribuan bintang diatas sana tertawa
Bulan seolah menari-nari melihat kita

Bersamamu kau bawa aku terbang
Memecah cakrawala menuju alammu
Melupakan keluh kesah hari ini
Kau selalu setia denganku di kala sepi

Dinginnya angin malam menyentuh tubuh
Kau coba mendekat memeluk menghangatkan tubuhku
Namun tubuhku mulai melemah kali ini
Kau terlalu erat memeluk tubuhku

Sudah waktunya kau pergi dariku
Ceritakan temanmu-temanmu tentang kejadian malam ini
Aku tak sanggup lagi bersamamu
Cukup sampai disini kau bawa aku kealam gelapmu