HAMPA
Karya Liya Nika Septiyani
Entah rasa apa yang muncul dalam kalbu
Sunyi, Sepi, Risau, Gelisah, Resah
Mereka datang bergantian
Mereka menyiksa kalbu
Rasa
yang sangat amat pilu
Gelisah
merenggut jiwa
Hati begitu
sendu
Dikala malam itu
Entah sampai
kapan rasa itu hilang dalam hati
Hati yang sangat
sepi, Hati yang sangat sunyi
Bagai rumah
tanpa penghuni
Mereka selalu
memburu dikala hampa
MALAIKAT TANPA
SANYAP
Karya Liya Nika
Septiyani
Kau mentariku
Kau penyemangatku
Kau hidupku
Kau nyawaku
Kau
ada dikala aku butuh
Kau
ada dikala aku sedih
Kau
ada dikala aku senang
Kau
ada dikala aku malang
Kau lah mentariku
Entah kau sedih entah kau senang
Kau tetap terlihat bahagia didepanku
Tetaplah senang
Maaf….
maafkan daku yang belum bisa menjadi kebanggaanmu
Maafkan
daku yang menyusahkanmu
Aku
masih butuh bimbinganmu
Aku
masih butuh kau….
WAKTU
Karya Liya Nika
Septiyani
Waktu tidaklah mahal
Hanya kita yang memahalkan
Waktu tak bisa di putar
Hanya roda yang bisa di putar
Indahnya
sebuah waktu luang
Dimana
kita bisa bersenang-senang
Menghabiskan
waktu berdua
Saling
canda tawa
Tetapi itu semua amatlah mahal
Kenapa seperti itu?
Apa waktu dijual?
Agar kau menyempatkan untuk membeli?
Agar kau punya waktu?
Waktu
tidak bisa diputar ulang
Hanya
roda sepeda yang bisa diputar ulang
Apa
kau tidak mau bersenang-senang?
KITA BERDUA
Karya Semsal
Khawatir dalam
jiwa
Menuggu
datangnya engkau
Bergumam dalam
hati tak kalau kau belum datang jua
Malam ini ditiup
angin menyapa rasa gundahku
Kau datang
dengan senyum malu-malu
Terlihat pipimu
memerah
Lesung pipimu
membuat aku tak berdaya
Seolah malam ini
merestui pertemuan ini
Kini aku dan kau
menjadi kita
Hanya ada
serangga mengiringi malam ini
Diatas meja
telah tersedia 2 nasi goreng
Malam ini kita
mencoba membunuh sepi
Aku tak ingin
cepat berakhir
Ctrl+C
Karya Semsal
Aku tanam biji
sajak
Kurawat dengan
akal
Kini telah
dewasa tak begitu indah
Tak satupun
peduli, mendekatpun tak mau
Namun aku tak putus
asa
Jemari ini tetap
menulis dengan lembut
Kurawat sajak
demi sajak hingga mekar
Ku harap menjadi
bunga puisi indah
Bungaku mulai
bermekaran seperti yang kuinginkan
Namun aku tak
mengerti dengan mereka
Tiba-tiba
mendekat bunga-bungaku
Memetik bunga sajakku
Dipetik bagiku
tak masalah
Dibawa sekalian
aku tak membencinya
Kau pakai untuk
merayupun tak jadi masalah
Namun aku benci
saat kau mengaku itu milikmu
PERGILAH
Karya Semsal
Terimakasih untuk malam ini
Malam pekat ini kau temani diriku
Ribuan bintang diatas sana tertawa
Bulan seolah menari-nari melihat kita
Bersamamu kau bawa aku terbang
Memecah cakrawala menuju alammu
Melupakan keluh kesah hari ini
Kau selalu setia denganku di kala sepi
Dinginnya angin malam menyentuh tubuh
Kau coba mendekat memeluk menghangatkan
tubuhku
Namun tubuhku mulai melemah kali ini
Kau terlalu erat memeluk tubuhku
Sudah waktunya kau pergi dariku
Ceritakan temanmu-temanmu tentang
kejadian malam ini
Aku tak sanggup lagi bersamamu
Cukup sampai disini kau bawa aku kealam
gelapmu

No comments:
Post a Comment